"Sekolah Pertamaku...
Harapan Akhir Pendidikanku..
Sekolah Pertamaku...
Bermula Pembelajaran Hati...
Sekolah Pertamaku...
Muara Akhir Pendidikanku...
Sekolah Pertamaku...
Akhir Perwujudan Seorang Buah Hati...
Sekolah Pertamaku...
Tumpahnya Tanya Banyaknya Cinta...
Sekolah Pertamaku...
Bermodal Hati bernama Ibu..."
Saat ini model pendidikan semakin beragam pula alasan dalam memilh-milahnya.
diantara sudut pandang yang digunkan dlam memilih sistem pendidikan adalah memilih sesuai dengan basic keilmuannya dan atau karena kemampuan dalam masaah finansialnya.
Arti pendidikan menjadi penting dan wajib bagi siapapun.
Sebagaimana tersebut dalam hadits Nabi :
"Mencari Ilmu itu wajib atas tiap2 muslim laki2 dan perempuan, dan barang siapa mencari ilmu, memohonkan ampun kepadanya sampai ikan2 di laut".
Lantas apakan pendidikan itu?
Pendidikan itu adalah suatu proses dengan mana pikiran, rasio, mental manusia, disiplin dan dikembangkan dengan disertai proses pertumbuhan di dalam individu dibantu mengembangkan daya2 kemampuan, bakat, kecakapan, dan minat dari individu itu sendiri.
Begitu pentingnya arti sebuah pendidikan, dengan pendidikan kita tahu akan hal2 yang belum kita ketahui dan dapat menghantarkan pada suatu yang lebih bermakna.
dengan pendidikan dapatlah kita ketahui tata cara, berdiri, berjalan, berlari sampai dengan manfaat dari pendidikan itu sendiri, kunci kesuksesan dalam pendidikan terdapat puncak pengamalan dan realisasinya.
Dijelaskan dalam hadits Rosululloh SAW :
"Ilmu itu adlah hidupnya Islam dan tiangna Iman, barangsiapa mengajar ilmu, kemudian mengamlkannya Alloh memberikan ilmu kepadanya dari suatu yang belum diketahui".(ALHADITS)
Dengan Pengamalan ilmu akan menimbulkan banyak sekali nilai tambah yang sebelumnya tak diketahui.
Pendidikan menghantarkan manusia pada rasa syukur, adabin hasanin kepada Alloh Ta'ala, orang tua, masyarakat, bangsa dan tanah airnya.
SEKOLAH DENGAN HATI
Lantas pendidikan seperti apa yang diperlukan oleh generasi2 penerus ini?
Karena mencermati demikian pentingnya pendidikan, maka yang paling balance untuk regenarasi adalah sebuah lembaga pendidikan yang mendidik putra-putri dengan sentuhan hati.
Kenapa harus hati bukankah cukup dengan pendidikan yang dapat mencerdaskan otak2 mereka saj?
Pendidikan yang demikian itu (berorientasi otak saja) tidak dapat menjamin generasi itu lebih bnaik.
Justru dengan hatilah yang dapat menjadikan barometersebuah generasi menjadi 'bernilai'.
Hati adalah sentral dari sebuah generasi.
Karena tegak, robohnya suatu generasi terletak pada hatinya pula.
Sebagaimana tersebut dalam hadits Rosululloh:
"Ingat2lah dan sesungguhnya di dalam jasad itu ada sepotong daging, bila ia baik, baiklah seluruh jasad, dan bila ia jelek, jeleklah seluruh jasad, ingat2lah dialah itu Hati".
Jadi hati adalah sentral yang perlu 'dididik' dengan model pendidikan yang benar2 akan memunculkan dampak positif pada generasi penerus ini.
Jika hanya jasmani yang 'dididik', maka akan memunculkan sebuah generasi seperti robot yang tidak menggunakan hati dalam bekerja.
"Pendidikan hati" bertujuan melatih moral dan akhlaq yang baik pada jiwa putra-putri kebanggaan hati.
Karena orang tua tidak ingin meninggalkan putra-putri ditaman dunia ini hanya sebagai buih yang diterbangkan angin kian kemari, dan musnah ketika ditimapa olaeh panasnya sinar matahari.
Sementara di saat yang sama semua brharapkan agar putra-putri memiliki peran aktifdalam merealisasikan tugasnya sebagai genersi yang dapat menyinari nusantara ini.
Mereka harus berperan aktif dalam merealisasikan tugasnya sebagai generasi yang dapat menyinari nusantara ini.
Mereka harus berperan sebagai berlian hidup, berlian berfikir, dan bukan sebagai sampah masyarakat yang dapat menjadi stigma pada masyarakat itu sendiri.
Dari Hati Kembali Ke Hati
Pendidikan dengan hati sangat berperan penting bagi purtra-putri titian penerus harapan.
Bagaimana dapat kembali pada hakekat awal sebagai tsamarotul qolbi jika dalam diri kita tidak menemukan jalan untuk kembali pada "Buah Hati"?
Di dalam hadits Rosullulloh disebutkan bahwasanya putra-putri adalah buah hati:
"Sesungguhnya bagi tiap2 pohon itu ada buahnya dan buah hati itu adalah anak"(alhadist).
Pendidikan awla manusia sebenarnya mngajarkan tentang "hati".
Sebab semua mengakui bahwa sekolah pertama kita (baca: pendidikan) adalah seorang ibu yang mengajarkan tentang seorang ibu yang mengajarkan tentang hati.
Hati nurani seorang ibu mengaliri pori2 cinta sang buah hati.
Tidak seorangpun yang mengharapkan buah hatinya menjadi buah hati yang busuk, dan justru mereka berharap memiliki buah hati yang yang baik.
Lantas sudahkah anda temukan lembaga pendidikan bagi putra-putri anda yang berfondasi pendidikan hati?
Oleh : NUR KHOLIFAH -alumni THGB-
Minggu, Oktober 19
Pentingkah Bersekolah Dengan Hati ?
Sabtu, Oktober 18
INDONESIA DALAM MAKNA POLITIK
Pada mulanya "Indonesia" adalah istilah ilmiah dalam etnologi dan diambil oleh para pemimpin pergerakan nasional sehingga istilah Indonesia berubah menjadi makna politis.
Sebagai makna politis maka Indonesia adalah wujud identitas suatu bangsa yang telah bangkit mencapai kemerdekaannya yang ratusan tahun dicengkeram kolonialisme Belanda.
Sehingga pemerintah kolonialisme Belanda selalu curiga dan mewaspadai terhadap istilah Indonesia hasil ciptaan James Richard Logan itu.
Di Rotterdam (negeri Belanda) nama Indonesia semakin popler digunakan oleh kalangan mahasiswa dan para ilmuwan, bahkan ada salah seorang mahasiswa sekolah tinggi ekonomi (Handels Hooge School) yaitu Bung Hatta mengusulkan agar organisasinya para mahasiswa Hindia Belanda yang belajar di negeri Belanda yaitu INDISCHE VEREENIGING yang didirikan pada tahun 1908 dirubah namanya menjadi INDONESISCHE VERENIGING (Perhimpunan Indonesia).
Begitu pula majalahnya para mahasiswa Hindia Belanda yang bernama "Hindia Poetra" supaya diganti namanya menjadi "Indonesia Merdeka".
Apa alasannya Bung Hatta berinisiatif mengganti nama organisasi dan majalah dengan istilah Indonesia ?
Disalah satu artikelnya yang dimuat oleh majalah Indonesia Merdeka, Bung Hatta menegaskan : .. bahwa negara Indonesia yang merdeka yang akan datang mustahil disebut Hindia Belanda juga tidak Hindia saja, sebab dapat menumbuhkan kekeliruan dengan India yang asli.
Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air di masa depan dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia akan beruasaha dengan segala tenaga serta kemampuannya".
Di dalam negeri kita terus terjadi bebagai gerakan2 dipimpin oleh tokoh nasional, diantara tokoh2 nasional yag pertama kali menggunakan nama "INDONESIA" pada organisasi pada organisasi pergerakannya adalah Dr. Soetomo yang mendirikan organisasi "INDONESISCHE STUDIE CLUB" pada tahun 1924, kemudian pada tahun itu juga berdirilah organisasi PKI (Partai Komunis Indonesia).
Selanjutnya pada tahun 1925 Jong Islami Ten Bond mendirikan organisasi kepanduan nasional yang diberi nama "INDONESISCHE PADVINDERIJ" (NATIPIJ).
Tiga organisasi tersebut itulah sebagai organisasi yang pertama kali menamakan organisasinya dengan memakai sebutan "Indonesia".
Dalam perkembangan selanjutnya nama "Indonesia" diangkat sebagai nam resmi bagi tanah air kita, kebangsaan dan bahasa persatuan kita melalui "Sumpah Pemuda" yang dicetuskan pada tanggal 28 oktober 1928.
Ketika bala tentara Jepang menguasai tanah air kita, lenyaplah nama Hindia Belanda" dan berganti sebutan "TO-INDO"(India Timur).
Bala tentara Jepang tidak lama menguasai negara kita, karena kekuasaannya dihancurkan oleh tentara sekutu, maka pada tanggal 17 Agustus 1945 nama "Indonesia" muncul kembali dengan lebih kuat karena dicantumkan dalam Proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia, dan selanjutnya pada tanggal 18 Agustus 1945, berdirilah Negara Republik Indonesia.
OLEH:WADI SUTIKNO
Diantara Cara Menjalin Ukhuwah
Membina persaudaraan adalah perintah Alloh yang diajarkan oleh semua agama, termasuk agama Islam.
Oleh sebab itu, sudah sewajarnya kalu semua elemen membangun Ukhuwwah dalam komunitasnya.
Apabila ada kelompok tertentu dengan mengatasnamakan agama tetapi enggan memperjuangkan perdamaian dan persaudaraan maka perlu dipertanyakan kembali komitmen keagamaannya, karena Alloh Ta'ala telah berfirman di dalam Alqur'an:
"Dan berpeganglah kamu semua kepada tali Alloh dan janganlah kamu bercerai berai,dan ingatlah akan nikmat Alloh kepadamu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan maka Alloh mempersatukan hatimu, lalu karena nikmat Alloh menjadilah kamu orang2 yang bersaudara".(QS Ali Imron/3/103).
Oleh karena menjalin persaudaraan adalah perintah Alloh Ta'ala maka sebagai hamba haruslah merealisasikannya, tapi dalam prakteknya bahwa menjalin dan mempertahankannya ukhuwah ternyata tidaklah mudah, namun demikian tidak berarti lantas kita tidak berusaha mewujudkan ukhuwah/persaudaraan tersebut.
Untuk itu perlu kiranya dicari cara2 untuk bisa menjalin persaudaraan, diantaranya ialah:
1 Untuk mewujudkan persaudaraan dalam skala yang besar, mungkin terlebih dahulu harus diciptakan persaudaraan/kerukunan yang lebih kecil, seperti kerukunan sesama anggota keluarga, kemudian mengarah pada persaudaraan sesama anggota masyarakat, lalu persaudaraan dalam satu komunitas organisasi massa, dan seterusnya.
2 Menjalin ukhuwah/persaudaraan memang selayaknya menjauhi hal2 yang bersifat diskriminatif.
3 Shilaturohmi yang sering dilakukan akan membawa kepada suatu pencerahan kesadaran sehingga menimbulkan sifat saling pengertian atau saling memahami antar komunitas yang ada.
4 Fenomena yang banyak terjadi, pada umumnya sebagian golongan tertentu lebih mengedapankan emosi dan fanatismenya, lalu pada gilirannya akan menutup ruang komunikasi dengan orang/kelompok lain, sehingga memperlebar jurang perbedaan yang bisa mengarah pada suatu pertentangan. Maka hal yang seperti ini perlu diminimalisir.
5 Terkadang situasi seperti di atas ini dipertajam lagi dengan emosi2 yang cenderung menyalahkan keyakinan/pemahaman kelompok lain, yang pada akhirnya akan diwarnai kecurigaan dan pertentangan antar kelompok tertentu. Hal seperti ini harus dihindari dan direduksi sedini mungkin.
6 Peranan tokoh yang menjadi panutan di masyarakat untuk lebih memfokuskan pada pembiunaan akhlaqul karimah/budi pekerti bagi anggota masyarakatnya, daripada untuk membicarakan perihal kekurangan/kelemahan golongan2 lain yang dikhawatirkan bisa berakibat negatif bagi jalinan persaudaraan.
7 Hendaknya perlu membangun ukhuwah dengan cara mencari titik temu-titik temu yang dimiliki masing2 golongan, bukan justru mencari-cari perbedaannya.
8 Menanamkan kesadaran dan pengertian kepada komunitasnya bahwa suatu perbedaan adalah hal yang lumrah terjadi sehingga tetap menimbulkan rasa saling menghormati dan saling menghargai.
9 Seandainya timbul pertentangan, supaya tetap menjaga sikap yang lemah lembut dan tidak bersikap kasar.
10 Berdialog atau tukar fikiran dengan cara yang baik.
11 Melatih diri untuk bisa saling memaafkan.
Demikianlah diantara beberapa cara dari sekian banyakl macam cara untuk bisa menjalin ukhuwah.
Alhamdulillahirobbil'alamin...
(Ayo dicoba-dicoba...^^)
Jumat, Oktober 17
SUMPAH PEMUDA2
mengenai sumpah pemuda gw punya artikel lagi..
Pada waktu sumpah pemuda di situ muncul lagu kebangsaan Indonesia.
Menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya diperintahkan berdiri.
Apa maknanya? Berdiri itu makna tersurat, tapi apa yang tersurut di belakang berdiri?
Semuanya itu ada diterangkan di dalam Alqur'an, surat Al Kahfi.
Dan di dalam hadits "Berdirilah kamu kepada pemimpin2mu!" pemimpin yang membawa kamu ke arah kejujuran.
jadi kita menghormati isinya yang tersimpan dalam lagu kebngsaan Indonesia itu.
sanggup membela Ibu Pertiwi,"Indonesia tanah airku tanah tumpah darahku, disanalah aku berdiri jadi pandu ibuku".
Mengapa kok di sana tidak di sini?
Pemuda2 jaman dahulu itu dari berbaga macam agama, berbagai macam suku pergi keluar negeri belajar ke Eropa.
Nun jauh di sana pemuda2 Indonesia itu membentuk organisasi unutk membela Ibu Pertiwi, tidak sempat tergiur oleh keadaan di Eropa.
Walaupun sudah memiliki ilmu kembali lagi ke Indonesia ini merapatkan barisan mengadakan SUMPAH Pemuda.
Yang belajar ke lur negeri itu pandai bahasa Inggris, pandai bahasa Belanda, pandai bahasa Jerman, yang belajar di Mesir, pandai bahasa Arab.
Tetapi setelah pulang ke Indonesia tetap menjunjung bahasa Negaranya sendiri, bahasa Indonesia.
Tidak akan terpengaruh oleh bahasa Arab, atau bahasa Inggris.
silahkan belajar bahasa Arab, bahasa Inggris, itu pelengkap saja.
Tapi jangan bahasanya sendiri.
Apalagi bahasa Indonesia sudah masuk dalam batang tubuh UUD 45.
Bahasa itu sebagian ayat Alloh, surat Nuh.
Boleh kita pandai bahasa Inggris, Boleh kita pandai bahasa Arab, Boleh kita pandai bahasa Mandarin.
Tapi bahasa Indonesia yang menjadi identitas Indonesia ini jangan sampai dilupakan.
gw setuju banged ma artikel ini coz gw liat orang yang nulis ni artikel.
beliau adalah seorang ulama' yang pendidikan formalnya hanya sampai kelas 3 SD.percayalah bro!
oke, gimana dengan kamu semua?!
Arsip Blog
Inilah Orang Gag Penting
- alias jojoz
- ploso jombang city!, jawa timur, Indonesia
- Yah masih nubie, perlu belajar banyak :p